News & Events

Pengusaha

Pengusaha

Buku Unik, Scrapbook Pemancing Kreatifitas Verbal dan Visual

Cerita menarik dan foto kenangan berkolaborasi dengan indah di satu wadah, scrapbook. Selain sebagai media dokumentasi scrapbook juga tempat mengeksploitasi art skill dan mengasah kreatifitas. Tertarik mencoba dan menantang juwa seni Anda?

Pernah dengar seni scrapbook? Di Indonesia memang baru dikenal kurang lebih sejak enam tahun silam. Namun di Amerika seni scrapbook sudah lama digandrungi bahkan menjadi lifestyle sejak 20 tahun lalu. Semua kalangan usia menggemari seni scrapbook ini mulai dari anak-anak hingga ibu-ibu. Kerajinan yang berkaitan dengan seni ketrampilan tangan ini juga tidak selalu identik dengan kefemininan. Buktinya banyak kaum adam dengan jiwa maskulinnya tertarik menekuni seni scrapbook.

Scrapbook, sesuai arti katanya adalah scrap artinya barang sisa. Dimana barang sisa tersebut dipakai sebagai hiasan foto untuk ditempel di lembaran kosong pada buku. Jadi scrapbook dapat didefinisikan seni menempel foto dan menghiasnya dengan barang-barang sisa atau bekas. Mirip album foto yang memuai berbagai kisah menarik terkait foto atau dengan kata lain kumpulan foto yang bercerita. Bisa juga didefinisikan penggabungan antara album foto dengan buku harian. Sebab kisah-kisah yang diguratkan dalam lembaran-lembaran kertas kosong tersebut merupakan pengalaman menarik si pemilik buku. Biasanya mereka yang memiliki jiwa seni tinggi, gemar menulis dan menghias, suka bercerita pasti tertarik untuk membuat sendiri scrapbooknya.

Seni menghias buku ini menginspirasi seorang Selvia atau lebih akrab disapa Pia untuk menciptakan buku unik serupa dengan scrapbook. Jika scrapbook pada umumnya dihias dan dirangkai sendiri oleh pemiliknya muali dari lembaran kertas polos, ditempeli foto, dituliskan sebuah cerita dan dijilid menjadi satu, scrapbook buatan Pia sudah berbentuk buku dengan cover tebal dan desain menarik.

"Idenya memang dari seni scrapbook tapi saya membuatnya menjadi lebih mudah bagi mereka yang ingin menekuni seni scrapbook. Tinggal beli buku ini dan menghias lagi sesuai selera.,” ujar Pia yang melabeli produknya dengan nama Buku Unik dengan alasan mudah diingat.

Biasanya buku polos atau menjilid sendiri kumpulan berbagai macam kertas yang dipakai untuk membuat scrapbook lalu tinggal memainkan kreatifitas dan imajinasi pembuat. Namun scrapbook buatan Pia sudah dijilid. Sampulnya didesain sesuai inspirasi yang ia dapat. Pembeli tinggal megisi buku tersebut. “Buku ini sudah semi jadi istilahnya tinggal diisi dan dihias sesuai keinginan. Pernak-pernik serta aksesories lainnya bisa memakai barang-barang bekas sendiri. Boleh juga beli yang baru sesuai tema yang ingin dibuat,” papar Pia.

Pernak-pernik yang Pia maksud biasanya berhubungan dengan kejadian atau momen dalam foto. Ambil contoh misalnya tentang peristiwa lucu di sebuah restoran saat makan malam bersama kerabat. Pemilik buku akan menempelkan beberapa menu makanan atau bahkan bill makanan ke dalam scrapbook sebagai materi pendukung cerita. Atau tentang kejadian unik di jalan bebas hambatan. Karcis tol tak luput untuk dijadikan aksesoris. Dan masih banyak momen lainnya yang bersifat keseharian. “Semua kejadian yang diceritakan dalam scrapbook sangat beragam, bisa tentang ulang tahun, pernikahan, kelahiran anak, atau kegiatan sehari-hari. Yang pasti untuk aksesoris yang dipakai adalah benda-benda yang berhubungan dengan momennya,” jelas Pia.

Ada juga yang membuat hiasan dari benda-benda yang kurang lazim dijadikan hiasan misalnya kancing baju, potongan rambut atau kuku, pecahan kaca, kunci dan lainnya. Hiasan tidak dibatasi oleh pita, bunga kering, renda atau stempel-stempel lucu saja. Pemilik buku bisa bereksplorasi seluas-luasnya atau sedalam-dalamnya tanpa takut dicap aneh. “Karena isinya tentang keseharian atau hal yang bersifat personal maka apapun bisa jadi aksesoris pendukung. Namun jika membutuhkan aksesoris seperti bunga dan benda-benda yang lazim dijadikan hiasan, saya juga menyediakan pilihannya,” ujar Pia menawarkan.

Ciri khas scrapbook buatan Pia adalah desai covernya yang tak pernah sama antara satu buku dengan yang lainnya. Pia memang sengaja buku handmadenya tersebut berbeda-beda lantaran ia memang tidak membuat patokan untuk setiap kreasinya. Bahan baku yang digunakan juga tidak pernah ia stok. Kertas yang ia pakai sebagai bahan bakunya didapat secara mendadak seperti ia mendapat ide. Jadi ketika idenya memakai kertas koran maka ia akan membuat scrapbook dari kertas koran. “Kertas apapun bisa dipakai. Seperti yang sudah saya bilang ini kan seni menempel dengan hiasan barang bekas jadi tidak mesti kertas baru,” cerita Pia.

Begitupun juga dengan tema untuk desain cover. Pia mengaku ia tidak pernah kesulitan menentukan tema apa yang akan dijadikan desain untuk cover, sebab begitu universal. Ia menyanggupi selera semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, eksekutif muda sampai ibu rumah tangga. “Segmennya luas sekali siapapun dan usia berapapun bisa pakai scrapbook ini jadi temanya akan mencakup semua kalangan,” imbuh Pia. Sekitar 80% tema desain tentang feminine dan 20% tentang maskulin. Jika tidak dijadikan sebagai scrapbook pun tidak masalah bentuknya yang sudah seperti buku tulis bisa dijadikan sebagai buku jurnal, buku catatan pelajaran atau memo.

Dengan harga jual sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu Pia mampu menjual scrapbooknya sekitar 400 buku, separuh dari kapasitas produksinya dimana separuhnya lagi ia jadikan stok. Untuk desain tema yang dipesan khusus Pia mematok harga sebesar Rp 200 ribu per buku dengan dua ukuran pilihan yaitu ukuran besar 15x21 cm dan ukuran kecil 15x18 cm.

 

-RENNY ARFIANI-