News & Events

Nova

Nova

Eugenia Selvia, Menuangkan Memori dalam Scrapbook

Eugenia Selvia (31) termasuk salah satupelopor seni scrapbook di Tanah Air. Karyanya terbilang unik dan kental sentuhan personal. Berkat kreativitas dan kejeliannya membaca pasar, ibu satu anak ini pun sukses memasarkan Bukuunik di berbagai kota.

Sejak kapan tertarik membuat scrapbook ?
Mulai tahun 2008. Awalnya, sih, berangkat dari hobi. Semasa masih tinggal di Riau, saya sudah suka menggunting dan menempel-nempel gambar atau foto lalu menyusunnya menjadi hiasan yang indah. Hanya saja memang belum terarah. Nah, ketika saya kuliah D-4 di Trisakti Institute of Tourism, saya melihat scrapbook di sebuah toko. Dari situ saya tergerak untuk membuat karya sendiri. Saya belajar secara otodidak.

Iseng-iseng saya membuat scrapbook dan membuat model dengan konsep daur ulang. Bahannya saya dapat dari majalah. Saya gunting dan tempel, dikombinasikan dengan kancing, pita, stamp, menjadi karya kreatif. Mulai dari membuat 10 buah, eh, ternyata banyak teman-teman yang suka.

Saat itu, seni scrapbook yang berasal dari Amerika Serikat ini belum begitu populer di Indonesia. Hanya kalangan tertentu yang mengerti. Beda dengan sekarang, ya, scrapbook sudah banyak dikenal. Dan karena dulu belum banyak yang tahu, orang bingung untuk apa scrapbook itu.

Memang apa sebenarnya fungsi scrapbook ?
Macam-macam. Bisa dijadikan bingkai foto, bisa juga untuk buku harian (diary ) yang dapat memuat memori kita. Misalnya, setelah melakukan traveling , tiket dan fotonya ditempel di situ, kemudian disertai dengan catatan perjalanan. Jadi, scrapbook itu penggabungan antara diary dengan foto yang dihias menjadi sesuatu yang indah.

Selain itu, bisa juga untuk catatan anak sekolah, menulis resep, jurnal kehamilan, dan banyak lagi sesuai dengan kebutuhannya. Saya memang membuat scrapbook untuk market yang luas. Itu sebabnya, kalau bicara soal kegunaan, scrapbook sangat fungsional. Meski sekarang cara konvensional menulis atau mencatat ini sering tergantikan dengan media di dunia maya seperti blog . Tapi, saya yakin nuansa personal dari scrapbook tetap tak bisa tergantikan.

Sulitkah membuatnya?
Sebenarnya tidak. Tekniknya stan­dar. Yang namanya menggunting dan me­nempel semua orang juga bisa. Hanya saja yang dibutuhkan adalah bagaimana mengasah kreativitas kita. Scrapbook yang bagus tentu menuntut kita membuat desain yang menarik sehingga karya ini menjadi enak dilihat. Jadi, memang berkaitan dengan jiwa seni kita.

Bahannya juga enggak sulit didapat. Untuk model recycle , saya tinggal mencari dari majalah. Untuk model lain yang namanya model kreatif, saya juga menggambar sendiri dan diolah di komputer, lalu diprint . Selanjutnya, saya kembangkan lagi menjadi creative notebook , saya tambah dengan kancing dan pita. Sampai sekarang saya masih terus mengembangkan model kreatif ini. Jadilah sekarang macam-macam produk seperti aneka catatan, diary, sketchbook, dan special gift.

Saat itu, ke mana Anda memasarkannya?
Selain teman-teman kampus, sa­ya juga menjual secara online di forum kaskus. Ternyata, banyak sekali pesanan. Enggak hanya teman satu kelas, tapi juga melebar ke kelas lain. Sampai-sampai konsentrasi kuliah terganggu. Itu sebabnya, saya kemudian menghentikannya meski banyak teman yang tanya.

Setamat kuliah, barulah saya fokus menjadikannya sebagai lahan bisnis. Kebetulan, pacar saya Willy yang kemudian menjadi suami saya, sangat mendukung. Bahkan, dia juga yang membuatkan website . Saya menamakannya Bukuunik. Sampai sekarang toko online www.bukuunik.com juga masih berjalan.

Pemasarannya pun saya garap lebih serius. Selain lewat toko online dan jejaring sosial, saya mulai ikut pameran. Awalnya pameran kecil-kecilan di kantor-kantor dan mal. Lama-kelamaan saya ikut pameran yang skalanya lebih besar, seperti pameran Inacraft di Jakarta beberapa waktu lalu. Ini keempat kalinya saya ikut Inacraft. Makin lama orang makin kenal Bukuunik. Apalagi, sudah beberapa tahun ini saya mencoba memproduksi secara massal.

Saya memasok produk ke berbagai toko termasuk Gramedia, Stroberi, Sogo, Living World di Jakarta, dan kota-kota lain di Medan, Jogja, Makassar, Surabaya. Sekarang saya memang lagi fokus untuk produksi massal.

Wah, usaha Anda rupanya berjalan lancar?
Ya, namun namanya usaha pasti ada pasang surutnya. Selama ini, sih, tetap bisa berjalan. Tentu saja saya bersyukur usaha dari hobi ternyata banyak yang suka. Respons masyarakat begitu bagus. Berkat konsumen pula, ide saya terus berkembang. Mereka kerap minta desain yang belum ada. Misalnya saja ada permintaan untuk membuat satu desain yang belum saya buat. Ada, lo, yang menyarankan saya membuat tema balet, olahraga, pesawat, dan lainnya. Demi memuaskan konsumen, saya berusaha menuruti keinginan mereka.

Model apa yang paling disukai konsumen?
Sebenarnya tiap model ada penggemarnya. Namun, yang paling disukai adalah model traveling. Sejak dulu peminatnya sangat banyak. Itu sebabnya, saya membuat beberapa desain untuk traveling. Favorit berikutnya ada kalimat yang menginspirasi.

Konsumennya mulai dari anak-anak sampai ibu-ibu. Kebanyakan pasarnya memang perempuan. Meski begitu, ada juga tema untuk laki-laki. Banyak juga ibu-ibu yang membelikan scrapbook sebagai hadiah untuk anak-anaknya. Selain hadiah sekaligus untuk memotivasi anak-anaknya menulis diary .

Selain itu, ada saja pesanan dari perusahaan. Mereka pesan beberapa ratus untuk suvenir karyawannya. Biasanya ada logo perusahaan, plus kolom untuk memuat foto karyawannya. Tentu saja saya butuh waktu mengerjakannya. Sebab, produk ini, kan, bikinan tangan, beda dengan percetakan yang bisa lebih cepat karena memakai mesin.

Oh ya, saat saya menikah tahun 2009, saya juga membuat scrapbook sebagai suvenir pernikahan. Kata teman-teman, suvenirnya unik dan jarang ada. Tentu saja mereka senang menerimanya. Meski enggak terlalu sering, belakangan ada yang khusus pesan scrapbook untuk suvenir pernikahan juga.

Berapa harga produk Buku Unik?
Mulai dari Rp50.000 hingga Rp95.000. Namun, untuk pesanan personal, harganya bisa Rp200.000. Misalnya saja hadiah buat istrinya yang ulang tahun. Mereka sepenuhnya menyerahkan desain kepada Bukuunik. Untungnya selama ini enggak pernah ada komplain soal desain.

Selain itu, saya juga menjual bahan-bahan untuk membuat scrapbook, seperti pita, stamp, kancing. Untuk bahan, harganya mulai Rp5.000. Saya menjual bahan mentah sejak punya toko. Idenya, sih, untuk meramaikan toko. Dulu, saya pernah punya semacam stan di Mal Taman Anggrek. Sejak konsentrasi menjadi distributor, gerai di Taman Anggrek saya tutup. Sekarang toko ada di Gading Serpong yang juga menjadi kantor dan workshop.

Mereka yang kreatif memang suka membeli bahan. Mereka coba merangkai dan membuat sendiri sesuai selera.

Stan bukuunik dalam sebuah pameran. Selain penggemar scrapbook, Bukuunik juga diminati berbagai kalangan.

Boleh tahu omzet usaha Anda?
Dengan skala produksi lebih dari 1.000 produk per bulan, omzetnya bisa mencapai Rp60–100 juta. Namun, kalau ada event seperti Inacraft, omzetnya lebih besar lagi. Hanya dalam beberapa hari saja, bisa terjual ratusan produk.

Omong-omong adakah kendala dalam berbisnis?
Kendalanya hanya soal SDM. Sejak awal menekuni sebagai bisnis, saya memang sudah dibantu karyawan. Sekarang sudah ada tujuh karyawan, tapi kreasi desain tetap saya yang mengerjakan. Teman-teman ada yang membuat duplikat desain, pembungkusan, penjilidan dan seterusnya.

Scrapbook sebagai produk handmade butuh karyawan yang kreatif. Kalau dulu bisa dibilang saya sendiri, sekarang sudah ada kompetitor. Bahkan, pernah produk saya dijiplak. Saya ambil positifnya saja. Kalau produk saya sampai dijiplak, artinya kreasi saya memang bagus. Justru dengan adanya kompetitor, saya terpacu untuk makin kreatif dan berusaha untuk berada di depan.

Apa, sih, kunci sukses usaha Anda?
Tentu saja harus terus kreatif memunculkan ide baru, setidaknya dalam sebulan. Idenya bisa berasal dari sekitar kita. Misalnya, melihat kebutuhan anak sekolah, saya buat scrapbook untuk mereka. Pasarnya masih sangat luas. Sambil berupaya menambah karyawan, saya sedang berkonsentrasi untuk memperbanyak cabang distribusi dan membuka sistemreseller .

-HENRY ISMONO-